Langsung ke konten utama

Postingan

SARMILI BIN YAHYA

Jami'al Huda, demikian nama masjid yang biasa saya gunakan untuk sholat Jumat, tiap minggu. Setelah saya parkir kendaraan , saya berwudhu dan masuk masjid. Hati saya terkesiap. Ada keranda berlapis kain hijau bertuliskan : Innalillahi Wa inalilahi rojiun dengan benang emas, diletakan dekat pintu masjid... Alhamdulillah ada orang meninggal, bisik saya dalam hati. Saya sangat berharap ingin ikut mensholatkan. Benar saja. Bakda Sholat Jumat, keranda jenasah diangkat dan diletakkan di depan dekat pengimaman. Satu takmir masjid maju memberi uraian pendek tentang si jenazah, nama jenazah Sarmili bin Yahya, umur 60 tahun. Takmir berbicara tentang utang dan akan ditanggung oleh anak lelakinya( anaknya ikut maju kedepan).Takmir juga memintakan maap ke pada hadirin agar memaapkan si jenazah, . Selama takmir bicara, tak henti-hentinya saya tersenyum pada jenazah:....." Wahai almarhum Sarmili bin Yahya. Andai engkau sekarang melihat. Engkau akan berbahagia, karena hampir sepe...

FACEBOOK

(Duhai Allah, semoga tulisan saya menenangkan jiwa saya dan mencerahkan yang membacanya.) Facebook bagi saya adalah search engine di dunia nyata. Bisa juga "kemah" yang kita buat biar kawan kita melihat rumah kita, itu di Pramuka. So kehadiran facebook hanyalah semacam alat saja, bukan segalanya. Mungkin karena saya laki-laki, mateng, dan simple, sehingga facebook hanya dipake untuk itu. Mangkanya saya agak heran melihat kaum hawa, ibu-ibu, yang men-tagline-kan facebook sebagai "sahabat utama" hidupnya kini. Kata-kata seperti : Aaarrrrch, mules...., atau lagi BT sering saya jumpai manakala saya membaca postingan mereka.Saya adalah orang yang percaya; apa yg kita tulis, atau kita katakan, (sadar atau tidak) menggambarkan cara berpikir kita. Soft character kita kebaca. Banyak orang nggak peduli dengan ini. Dan saya sangat peduli. Kenapa? Tulisan dan ucapan yang ditulis, menggambarkan pribadi seperti apa anda. Ada yang tampak, ragu-ragu, ada juga yang suka jad...

PRASETIJO HERMAWAN

NAMANYA PRASETIJO HERMAWAN. Dia adalah teman istimewa SMA saya waktu di SMAN 2 Banyuwangi. Mengapa. Karena sejak saya menjadi Ketua Gerakan Pramuka Gugus Depan SMADA Banyuwangi, Pras, selalu terbuka minjamin sepeda motor Astrea 800-nya untuk saya pakai kemana saya pergi, tanpa ditagih bensin. Baik banget, kan? Saya tidak tahu banyak tentang keluarga Prasetijo. Yang saya tahu, ayahnya seorang hakim bertugas di Mataram waktu itu. Prasetijo dan adiknya Pramesti Wulandari ditinggal berdua bersama neneknya saja. Dan bukan saya saja yang merasakan kedasyatan kebaikan budi Pras ini, hampir semua teman di kelas, baik kelas 1, 2 dan 3 setidaknya mengakui kebaikan karakter Pras. Sudah lama saya tidak bertemu selepas lulus SMA tahun 1987. Dan semingguan tadi kami bisa kembali bercakap-cakap. Ceritanya saya dapat nomor HP Pras dari adiknya Wulan yg OL di Facebook. Begitulah, hati saya berbuncah gembira bisa bicara dengan Pras setelah 22 tahun berpisah. Pras bilang sekarang dia tinggal dan ...

SUFI-SUFI DI DUNIA

SUMPAH saya nggak hapal nama sufi-sufi yang menghiasi dunia dengan kisah-kisah sufistik yang sederhana tapi mendalam. Saya juga tidak akan berserita tentang kisah sufi yang pernah ditulis orang. Lo lalu? Iya. Saya tengah merasakan kedasyatan angin sufi di kiri kanan saya hari-hari ini. Saya mesti kulonuwun pada Kanjeng Nabi Muhammad yang merupakan sufi sejati. "Assalamualaika Ya Rasul..." Setahu saya seorang sufi itu menghadapi dunia yang ruwet dengan pikiran sederhana. Melangkah gagah menyongsong waktu dengan kepala menunduk yang berarti takjim pada setiap detik jarum berputar dengan hati ikhlas. Seikhlas andaikata jarum jam diputar berlawanan arah. Laku lampah sufi itu bisa diibaratkan bila seluruh dunia suka dugem, maka laku sufi lebih memilih tiba-an, samroh atau nasyid. Tak peduli betapa semua orang tertawa, laku sufi malah menangis dalam sepi. Saya teringat bagaimana para juara olimpiade menakhlukan ego pribadi untuk terus-dan terus berlatih supaya selalu siap d...

MASJID-MASJID

SELAMA hidup saya nggak berusaha menghitung berapa masjid yang pernah saya pakai untuk solat biasa ataupun sholat Jumat. Selama hampir satu bulan di Makasar, saya sudah beberapa masjid yang saya solati dalamnya. Minus masjid Al-Markaz El-Islamy masjid yang digagas pembangunannya by (Purnawirawan)Jendral. M. Jusuf, mantan Pangab yang sangat dicintai para anak buahnya itu. Jumat ini saya selesai sholat jumat di sebelah Panakukang Square, saya berpikir dalam-dalam. Ya Allah apa beda sholat di mesjid Makasar ini dengan di mesjid Istiqlal, atau masjid di Siliragung Banyuwangi sana. Bukankah semuanya menghadap wajah Tuhan kita? Khusuknya tergantung kita juga. Tapi rata-rata wajah masjid selalu teduh, dan dalamnya isis. bagi sebagian orang menarik dijadikan tempat nggeletak sambil pejamin mata. Yang agak saya benci adalah ada saja orang tidur di masjid, siang-siang lagi! Mesjid kan tempat solat, lha kok jadi tempat tidur. kalo lagi nganggur ato mbolos dari kerjaan mbok ya jangan masji...

SAKIT MATA

SABTU, 25 April 2009 hari ini 5 dari 9 orang di toko Makasar kena penyakit mata. Termasuk saya. Awalnya penyakit "belekan" ini dibawa oleh Boy, lalu ke Susi, balik ke Boy lagi, terus merambat ke Galang, ke saya, dan terakhir ke Pak Haris Wicaksono Store Head di Makasar. Yang masih stabil tak terinfeksi hanya Indri Kasir, Satria, Wi-win dan Ayu Elfrida Sakit mata sih gak papa, biasa, tetapi terjadi di toko dimana kita sebagai penjual agak mengganggu, terutama untuk pelanggan. Nggak lucu kan kalo pas ngelayani, pas mata kita belekan. Seperti orang nangis bin sedih. Padahal kita good feeling dan bersemangat tapi penderita sakit mata tetep kayak orang nangis karena merah matanya. Bagi saya pribadi, sakit mata berarti teguran Allah, karena mata keseringan dipake "ngelayap". Duh, Gusti. Engkau tau aja mata ini harus dihukum. Namun betapa sedihnya saya, betapa sulitnya bersujud di rumahmu, karena menahan sakit. Setiap sujud, mata serasa mau loncat, perih dan berpu...

RINDU

SUDAH 8 hari saya jauh dari istri. Perjalanan saya kali ini memang tugas kantor, tapi saya merasa ada yang kurang dalam keseharian saya. Tugas kantor menuntut fokus, sabar dan fleksibel sesuai misi saya sebagai negosiator untuk suatu case. Namun kebiasaan hidup berdua, lalu sendirian agak membuat janggal. Saya merindukan kelengkapan: tiap hari saya mesti "rame" dengan istri untuk semua persoalan : nyuci mx, supra x, siti z, dan bikin susu segelas untuk kami minum berdua. Hehehe...lucu ya kami punya banyak gelas tapi giliran buat segelas susu, justru diminum berdua. Bukan sok mesra, tapi males bikin dua aja. Hahaha... Belum lagi giliran pasang kelambu dan copot kelambu. Biasanya pasang kelambu itu tugas dia, dan saya bertugas copot kelambu paginya. Kalo ada saya, istri suka pura-pura lupa untuk pasang kelambu dengan gaya pura-pura sudah lelap duluan. Ya gitu deh, uarek jan mbuak bruk (mbuh boso Inggrise, opo?) tapi saya ringan saja untuk take over. Paginya begitu pu...