Langsung ke konten utama

Postingan

Kontributor Kultum

Bismillahirarahmanirrahim, Hanya Dia yang menggerakkan ujung jari ini menulis hurup demi hurup untuk dibagikan ke tengah sidang pembaca yang budiman. Allah juga tujuan saya menghimpun dan merekap detik demi detik ketegangan saya di beberapa hari ini agar kelak bila anak-cucu saya membaca tulisan saya ini, ia turut "tegang" seperti yang dialami datuknya. Subahannallah. Pembaca yang budiman, Beberapa hari ini saya tegang bukan kepayang. Tidur tidak lelap, makan terburu-buru dan napas terengah-engah. Apa pasal gerangan? Tak lain dan tak bukan adalah nama saya masuk dalam daftar kontributor menjadi pemberi materi ceramah kultum (kuliah tujuh menit) di mesjid Muqarrabin, mesjid komplek dimana saya tinggal. bagi sebagian orang hal itu biasa, namun bagi pemilik nama Slamet Ismulyanto itu sangat luar biasa. Mengingat dia akan memberi kontribusi kultum dihadapan para solihin, tempat berkumpul orang saleh. Itu tak pernah terjadi sebelumnya, seumur hidupnya. Hanya Allah yang mem...

JOGJA

Mana tulisan Jogja yang benar : Jogja, Jogya, Yokya, atau Yogja. Itulah. Karena saya suka ketegasan, maka saya pake Jogja untuk menuliskan kota Jogjakarta. Minggu lalu saya hampir 4 hari penuh keliling kota Gudeg ini. Wisata? Bukan. Lebih tepatnya survey. Mengapa survey? Karena saya udah bikin program harus segera persiapan get out dari kota penuh sesak: Jakarta. Salah satu kota inceran itu adalah Jogja. Perjalanan ini adalah kali ketiga saya mengunjungi kota ini, sebelumnya saya pernah singgah di tahun 1998 dan 2003 bareng istri. Kotanya "ayem' dan penduduknya ramah. Dari rumah saya diantar istri sampe stasiun UI Depok lalu meneruskan perjalanan pakai kereta ekspress Bogor-Jakarta turun di Gambir. Dari Gambir, saya naik Taksaka berangkat pukul 20.45 wib. Karena perjalanan malam hari, dus saya nggak bisa lihat pemandangan karena gelap. Akhirnya saya putusin memejamkan mata saja. Karena kereta eksekutip, maka jarak Jakarta-Jogja yang 518 km hanya ditempuh dalam wak...

CINTA

Hari itu, Jumat 26 Pebruari 2010 adalah hari penuh cinta. Cinta manusia pada manusia. Tapi bukan cinta biasa. Karena yang dicinta juga bukan manusia biasa. Anda pasti sepaham dengan saya. Dialah manusia paling dicintai Illahi Robbi, Dzat paling sohor tanpa tandingan. Lha kalo Allah saja sangat mencintai manusia satu ini, lha mosok kita cuek bebek, Rek... Benar sahabat, dialah Kanjeng Nabi Muhammad, manusia paling mulia derajadnya di alam manapun. Dimanapun, kapanpun dan dalam situasi apapun dia kita sebut setiap kali. Allohuma soli ala (sayidina) Muhammad. Nama manusia yang paling sering disebut oleh manusia di belahan dunia manapun selain Ibrahim dan Ali. Terus terang, perkenalan saya dengan Kanjeng Nabi ini tidak jelas benar. ia mengalir begitu saja, manakala saya ingat, waktu saya ngaji di Langgar Tengah, Jalan Manggar, Kodya Blitar, Jawa Timur antara tahun 1977 - 1980. Umur saya waktu itu antara 9-11 tahun. Namanya juga anak kecil, baca dua kalimah sahadat, kata guru ng...

HIRA YUSOPA

KANG HIRA. Begitu saya biasa memanggil namanya. Saya kenal pertama kira-kira tahun 2005. Waktu itu saya HRD & ADM Manager pada PT. Pachira Distrinusa di Kelapa Gading. Pertemuannya serba biasa. Dia mengantar Bu Meli, istrinya, tiap pagi dan kadang kami ketemu di bawah dekat ruang operator. Waktu Pak Mukhlis meminta saya untuk mencarikan tenaga salesman yang akan diperbantukan ke Area Sales Manager Bandung, Bu Meli iseng nanya: Pak kalo A-Hira boleh nggak coba daftar? Silakan, jawab saya singkat. Pendek cerita Kang Hira masuk. Setelah di kasih pembekalan oleh Pak Mukhlis (Managing Director), Pak Toro ( Deputy Chief GM), Pak OOk (Finance Director), dan HRD & ADM Mgr, pergilah dalam damai Kang Hira ke Bandung. Ia diperbantukan ke Pak Tritura Nugroho (ASM Bandung). Seiring bergulirnya waktu, sebelum lebaran 2005, Pak Mukhlis kasih sign ke saya untuk siap-siap rotasi ke Bandung sebagai ASM dan Pak Tri pindah ke Semarang. Benar saja. Saya abis lebaran 2005 ke Bandung ketemu d...

AYAH

ADA seorang sahabat bercerita kalo ia deket banget dengan ayahnya. Apalagi sejak ayahnya sakit-sakitan. Ia merasa ayahnya sakit psikis larena banyak pikiran. Ayahnya ingin kembali ke tempat dimana ayahnya dilahirkan. Saya tidak tahu bagaimana pikiran wanita beroperasi, namun bila saya mendengar kisah-kisah tentang bagaimana "kangennya" laki-laki dengan suasana dimana dia dilahirkan, dan dibesarkan. Saya menjadi inget ayah saya. Nama ayah saya Samiari. Waktu ia muda, teman, bibi dan budenya biasa panggil Didik. Mangkanya setelah jadi TNI AD sekitar tahun 1963, lencana nama yang tertempel di dadanya tertulis D. SAMIARI. Kalo saya tanya D itu apa Pak? Didik, jawabnya singkat. Sejak ayah saya masih muda, ia terkenal ganteng, humoris dan ekstrovert. Temennya banyak. Hanya sayang 'cos orangtuanya banyak anak, Samiaji, Samiati, Samiadi, Samiari, Samiani, Samiasih, mangkanya bapak kalo mau makan harus nyari ke tetangga dulu. Dimana rumah tetangga ada kerjaan, baikin ...

SARMILI BIN YAHYA

Jami'al Huda, demikian nama masjid yang biasa saya gunakan untuk sholat Jumat, tiap minggu. Setelah saya parkir kendaraan , saya berwudhu dan masuk masjid. Hati saya terkesiap. Ada keranda berlapis kain hijau bertuliskan : Innalillahi Wa inalilahi rojiun dengan benang emas, diletakan dekat pintu masjid... Alhamdulillah ada orang meninggal, bisik saya dalam hati. Saya sangat berharap ingin ikut mensholatkan. Benar saja. Bakda Sholat Jumat, keranda jenasah diangkat dan diletakkan di depan dekat pengimaman. Satu takmir masjid maju memberi uraian pendek tentang si jenazah, nama jenazah Sarmili bin Yahya, umur 60 tahun. Takmir berbicara tentang utang dan akan ditanggung oleh anak lelakinya( anaknya ikut maju kedepan).Takmir juga memintakan maap ke pada hadirin agar memaapkan si jenazah, . Selama takmir bicara, tak henti-hentinya saya tersenyum pada jenazah:....." Wahai almarhum Sarmili bin Yahya. Andai engkau sekarang melihat. Engkau akan berbahagia, karena hampir sepe...

FACEBOOK

(Duhai Allah, semoga tulisan saya menenangkan jiwa saya dan mencerahkan yang membacanya.) Facebook bagi saya adalah search engine di dunia nyata. Bisa juga "kemah" yang kita buat biar kawan kita melihat rumah kita, itu di Pramuka. So kehadiran facebook hanyalah semacam alat saja, bukan segalanya. Mungkin karena saya laki-laki, mateng, dan simple, sehingga facebook hanya dipake untuk itu. Mangkanya saya agak heran melihat kaum hawa, ibu-ibu, yang men-tagline-kan facebook sebagai "sahabat utama" hidupnya kini. Kata-kata seperti : Aaarrrrch, mules...., atau lagi BT sering saya jumpai manakala saya membaca postingan mereka.Saya adalah orang yang percaya; apa yg kita tulis, atau kita katakan, (sadar atau tidak) menggambarkan cara berpikir kita. Soft character kita kebaca. Banyak orang nggak peduli dengan ini. Dan saya sangat peduli. Kenapa? Tulisan dan ucapan yang ditulis, menggambarkan pribadi seperti apa anda. Ada yang tampak, ragu-ragu, ada juga yang suka jad...