Bottom 1

My Slideshow: Me’s trip from Jakarta, Java, Indonesia to 2 cities Solo and Banyuwangi was created by TripAdvisor. See another Indonesia slideshow. Create a free slideshow with music from your travel photos.

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

14 Oktober 2011

KENANGAN LALU


MELIHAT gambar diatas membangkitkan kenangan masa lalu, waktu saya kecil. Masa kecil semua orang pasti indah. Maunya main mulu, nggak pagi, siang, sore, malam, main aja judulnya. Susahnya cumak satu, kalo dimarah ama bapak ato ibuk.


Itu saja.


Kamis, sore, 13 Oktober 2011, saya datang pada walimatul ursyi, Suryana, salah satu karyawan pabrik Cibinong.

Perkawinannya sederhana, dengan lantunan musik-musik islami, tamu hilir-mudik bergantian masuk menyalami pengantin. Sambil menikmati hidangan, saya beramah-tamah dengan tamu disamping.

Ternyata beliau paman dari mempelai wanita.


Kami bicara soal, banjir, kekeringan sampai mempelai wanita yg sudah tak ada orangtuanya lagi. Subhanallah.


Saya menyukai perkawinan dengan cara sederhana, yang penting Allah ridho atas pernikahan itu. Bukan pesta yang meriah yang paling penting, namun bagaimana the day after alias pasca pernikahan itu. Bagaimana mengatasi perbedaan, bagaimana menerima kekurangan, dan bagaimana menyelesaikan kesulitan yang muncul di setiap masa.


Di sela-sela perjamuan itu, saya tertarik untuk mengabadikan poto anak laki-laki kecil di depan saya yang tampak asyik memainkan hape ibunya. Umur anak ini kira-kira 5 tahun. Pikiran saya melayang ke 37 tahun lampau saat saya seusia dia. Apa yang sedang dia pikirkan?


Sama dengan saya, barangkali, kita hanya ikut ibu atau bapak kita. Perkara lain, itu diluar pikiran kita.


Saya inget waktu itu kami tinggal di Blitar (kami tinggal di asrama Kompi Ban, Jalan Tanjung, sekarang jadi STIE) saya diajak menghadiri pernikahan adiknya Pak Sugianto (tentara, teman Bapak) di daerah Lodaya. Kami orang komplek naik ges (sejenis jip tentara, yang pake slenger untuk menghidupkan mesinya). Kami lewati jalan yang berkelok-kelok, bergunung akhirnya sampai.


Waktu pulangnya, ibu cerita, saya nggak mau naik ges jelek itu lagi (di tengah jalan, kami kehujanan, dan air masuk). Saya maunya naik jip yang ada "benderanya".

"Itu punya, komandan...." kata Ibu.

Saya nggak mau tahu, tetep nggak mau pulang kalo naik ges. Benar saja, Komandan dan istrinya berbaik hati ajak saya naik. Ya, Allah, nyusahin Ibu betul saya waktu itu. Inget itu saya menangis diam-diam. Betapa, berdosanya saya pada Ibu. Bagaimana segan, takut dan tidak nyamannya hati Ibu menghadapi anaknya yg pengen naik mobil enak.


Kisah ini saya tulis, sehari, setelah pernikahan Suryana. Dan saya masih mengingat kenangan lalu saya lewat poto anak laki-laki kecil yg duduk di depan saya itu.

Duh, bahagianya menjadi anak kecil, masih punya bapak dan ibuk yang menyayangi kita setiap saat.


Duhai Ibu, sudah kukirimkan 7 pesona surat-surat Al-Quran : Ya-Sinn, Al Mulk (kesukaanmu), Al-Waqiah, Ar-Rahman (yg kubaca dengan cinta yg penuh), Aj-Jinn, Al-Mujjamil, Al-Fajr, padamu dan pada ayah.


Semoga engkau bergembira di alam damaimu. Dari anakmu, pecinta Rasulnya, dan berusaha menjadi mahluk soleh dari Pemilik Kesolehan alam raya ini.

10 Agustus 2011

SAKIT TENGGOROKAN

BISMILAHIRRAHMANIRRAHIM. Biasalah pembaca yg budiman, namanya orang puasa, apa aja yg keliatan enak, pasti disantap, apalagi menjelang berbuka. Itulah petaka bagi saya. Sabtu sore, 6 Agustus 2011 saya beli es degan kesukaan saya. Begitu nyampe rumah pas menjelang adzan magrib, langsung saya tenggak tuh minuman. Setelah nyamber beberapa kue dan buah dingin, saya samber juga teh panas buatan mertua (kebetulan mertua udah nyiapin). Awalnya asyik-asyik aja. Namun besoknya tenggorokan ada yang nggak beres.

Cilakanya, saya kadung menyetujui untuk memberi kultum solat subuh di Mesjid Al-Muqarrabin, besok pagi. Duh. Gawat! Bisa nggak lancar acara silaturahmi ilmu besok.

Buru-buru, saya kunjungi salah satu apotik deket rumah saya, letak apotik ini di jalan tembus perumahan saya dengan jalan RTM Kelapa Dua Depok. Yang menerima saya mbak-mbak agak gemuk tapi manis. Hihihi.....

Mbak....saya lagi radang tenggorokan. Apa obat untuk saya ya? Kata saya bergaya upin-ipin. Si Mbak ini tersenyum, "Mau satuan atau paketan?"

Yang pasti saya ada flu, batuk, meriang dan....., kata saya.

Si Mbak langsung nyamber aja, bapak perlu paketan deh!
Berapa....tanya saya sok pelit.
25 ribu.

Baiklah, kata saya.

Nggak lama diambilnya beberapa obat dalam beberapa kaplet dan diangsurkan ke saya. Saya hitung ada 5 jenis. Haddooohhh.....!

Diminum semua inih, tanya saya menawar.
"Lha iya..., kata Si Mbak manis balik.
Saya mengangguk-angguk. Bengong.

Si Mbak dengan cekatan menulis di kaplet 3 x 1 dan aneka tulisan lain.
Bikin puisi, Mbak, tanya saya menggoda.
"Cerpen..."jawabnya cepat, masih dengan wajah manis.

Setelah itu dia jelasin dengan gaya dokter pada pasiennya, panjang kali lebar. Dan setiap dia ambil napas jeda, saya jawab : iya Bu Dokter....iya Bu Dokter, dengan gaya jenaka.

Setelah saya bayar, saya berbalik ambil sepeda motor pergi. Sayup-sayup saya dengar, bapak itu manis ya, dia bicara ama temannya.

Manis? Legen kalee, pikir saya sambil pergi.

Sampai dirumah saya buka satu-satu :
1. Calviplex (vitamin) diminum 2 x 1
2. Grathazon (anti radang) diminum 3 x 1
3. Ciprofloxacin 500 mg (tablet salut selaput) 500 mg diminum 3 x 1
4. Ambroxol (pengencer dahak, 30 mg) diminum 3 x 1
5. Alpara (menghentikan batuk, demam, pusing) dg dosis paracethamol 500 mg diminum 3 x 1

Setelah bedug magrib, kelima obat itu saya minum. Dasyat lo....Tenggorokan nggak gatel-gatel lagi. Terus flu berhenti dan pusing berkurang. Saya optimis bisa ngasih kultum di mesjid dengan selamat besok pagi.

Demi memaksimalkan obat, jam 23.15 saya minum lagi. Dan terakhir setelah sahur saya tenggak lagi. Suara saya kembali enak, nggak kayak siang kemarin yang memelas. Kenapa memelas? Cos begitu saya berjamaah magrib di rumah dengan istri, saya wirid panjang dan baca doa, terdengar suara saya begitu menyayat seperti orang yang khusyuk. Padahal lagi radang. Hehehe....

Alhamdulillah, kultum di mesjid terlewati dengan sukses. Terima kasih Mbak apotik yang gemuk tapi manis. Hehehe.....

07 Juli 2011

LAKI-LAKI MENANGIS




DIANTARA karunia dan nikmat Allah bagi umat ini adalah Dia (Allah) mengutus Nabi Muhammad kepada kita. Dengan diutusnya Muhammad
Rosulullah, Allah menjadikan mata yang buta menjadi terbuka, membuat telinga yang tuli menjadi mendengar, dan membuka kalbu yang terkunci mati.

Diutusnya Rasulullah, Allah menunjuki orang yang sesat, memuliakan orang yang hina, menguatkan orang yang lemah dan menyatukan orang serta kelompok setelah mereka bercerai-berai.

Selasa 5 Juli 2011 bila anda nonton TV-One live ada menanyangkan pemakaman KH. Zainuddin MZ. Kamera sempat menyorot dua tokoh nasional H.Rhoma Irama dan KH. Nur Iskandar SQ keduanya tampak menangis.

Mengapa mereka menangis?

Pernahkah anda menangis oleh karena melihat orang meninggal dunia? Ataukah kita baru mengingat pada kematian?

Ad-Daqqa berkata : "Barangsiapa yang sering ingat kematian, ia akan dimuliakan dengan 3 hal, yakni : lekas bertobat, hati yang qanaah (menerima apa adanya ketentuan Allah), dan semangat dalam beribadah.

"Dan barangsiapa yang lupa pada kematian, ia akan diberi sangsi 3 hal yaitu: lambat bertobat, tidak puas dengan pemberian Allah dan malas beribadah".

Tentang kematian Imam Qurtubi berkata :"Wahai orang yang tertipu akan kematian dan saat-saat yang krusial ketika kamu sedang sekarat. Kematian adalah janji yang pasti akan ditepati. Kematian adalah hakim yang adil. Kematian adalah luka. kematian membuat mata menangis. Kematian mengakibatkan perpisahan. Kematian melenyapkan kenikmatan-kenikmatan dan kematian memutuskan harapan serta angan-angan.

Menurut riwayat, Rasulullah pernah menangis di pusara ibunya ketika beliau memintakan ampun pada Allah swt. Nabi juga pernah menangis saat minta dibacakan Quran dan Ibnu masud membaca An-Nissa hingga ayat yang ke-41...."Bagaimanakah kalo Kami mendatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka".

"Cukuplah..." kata Nabi.

Selanjutnya Ibnu Masud menoleh kepada beliau dan mendapati kedua mata Nabi telah berlinang air mata (HR. Bukhari-Muslim).

Umar Ibnu Khatab pernah menangis kepada Abu Musa, karena takutnya siksa Allah atas dirinya padahal Nabi, pernah menjamin Umar adalah salah satu calon penghuni surga. Mengapa? Karena Umar merasa tidak pantas, Umar merasa dosanya makin nambah setiap hari.

Umar bin Abdul Azis yang kita kenal sebagai Khalifah ke-5 setelah Abubakar, Umar, Ustman, dan Ali, dulu sebelum menjadi khalifah suka menyendiri di kamar dan sering menangis. Ibuya mendekat dan memeluk Umar : mengapa kau menangis anakku?

"Tiada sesuatu apapun wahai Ibu, hanya saja aku teringat akan kematian...."

Ali bin Zaid mengatakan: Umar bin Abdul Azis selalu ketakutan, seakan-akan neraka itu hanya khusus diciptakan untuk dirinya saja.

SEORANG bijak mengatakan kesehatan jasmani terletak pada sedikit makan, keselamatan ruh terletak pada sedikit dosa, dan keselamatan agama terletak pada sholawat pada manusia terbaik, Muhammad saw.

Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat ke-18, " Wahai orangorang beriman, bertaqwalah pada Allah (yakni takutlah dengan siksaan2-Nya). Hendaknya setiap diri kita memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok".

Berbahagialah orang-orang yang mampu menetes air matanya karena ingat kepada Allah dan takut akan ancaman-ancaman-Nya. Orang-orang seperti inilah yang Rasulullah maksudkan dalam riwayat Tirmidzi: "Tidak akan masuk neraka seorang yang pernah menangis karena takut pada Allah sehingga dapat kembali air susu ke dalam susu. Dan tidak akan berkumpul selamanya debu jihad fi sabilillah dengan asap neraka jahanam."

Sudahkah kita mempersiapkan kematian kita?




19 Juni 2011

BEHIND THE SCENE





Bismillahirahmanirrahim. Semoga Allah menjaga jari saya agar mudah menulis kisah ini dengan ringan. Sejak dulu saya paling "tidak nyaman" tampil. Selalu lebih nyaman bagi saya untuk menjadi tim pendukung atau bahasa klimisnya orang di belakang panggung, agak sedikit dihebohkan sebagai man behins scene.


Hari ini, Minggu, 19 Juni 2011 saya ada sedikit kisah.

Tiap minggu ketiga setiap bulan, Saya bareng istri "agak kesiangan" pergi ke majelis zikir Az-Zikra di Perum Mampang Indah 2, Sawangan Depok. Alhamdulillah tepat pukul 8 pagi kami sampai. Dengan buru2 kami bergabung dengan ribuan jemaah yang sudah memadati area zikir di lapangan luar Mesjid Al Amru Bi Taqwa.

Istri ke kelompok ibu-ibu, saya mengambil shaf di tengah, kebetulan ada space kosong untuk satu orang. Di depan tengah memberi tausyiah Ustadz Syaroni dengan pengalaman2 spiritualnya. Saya beruntung tak lama setelah Ustadz Syaroni, tampilah Ustad Abdul Syukur memimpin zikir bersama. Pendek kata, saya masih dapet acara inti, walau ketinggalan membaca Yasin, Al-Mulk dan sedekah jariyah.




Setelah khusuk berzikir, pukul 9.30 acara bubaran.


Kami berjalan menuju kendaraan. Ada ibu berbaju putih menuntun anak lelaki kecil (5 tahun) dan istri menyapanya. Istri terlibat pembicaraan ringan. Inti yg saya tangkap ibu tadi akan bertemu Mbak Yuni (Istri Ustadz Arifin Ilham) namun karena kurang koordinasi Mbak Yuni nggak ada di rumah di Mampang Indah 2. Kata penjaganya Mbak Yuni ada di Sentul.

Ibu itu minta ikut ke depan (ke jalan raya) untuk nyegat taksi. Alhamdulillah kami tawarkan untuk mengantar ibu ini ke Sentul, kebetulan istri ada undangan menghadiri pernikahan adik kawannya.

Ibu itu setuju dan lega.

Kami berangkat mengambil rute Depok-Cimanggis-Pal 29-Auri-tol Cibubur menuju Bogor. Di perjalan kami berbincang-bincang ringan. Kami baru tahu, ibu ini suaminya sudah meninggal. Konon semasa hidup, ibu dan suaminya sering "runtang-runtung" dengan Arifin Ilham. bahkan Ustadz Arifin sering bertemu suaminya di rumahnya di pesantren kawasan Pandaan Jawa Timur. Saya sempat terkejut melihat poto suaminya, lebih mirip Osama Bin Laden. Hehehe...Sebangsa habib, rupanya.

Keiklasan kami mengantar ke Qadafy Islamic Center (QIC) rupanya diganjar "tunai" Allah. Setelah memarkir kendaraan di samping dua mobil baru Honda Civic warna hitam dan silver, dari rumah besar disamping QIC, saya lihat orang kebanggan umat M. Arifin Ilham baru keluar rumah. Tampaknya dia mau pergi lagi, terlihat dia membawa tentengan tas dan membawa kamera bertele.

Saya salamin ustadz Arifin plus cium pipi kiri-kanan dan saya kabarkan maksud kedatangan kami mengantar ibu (umi) bertemu Mbak Yuni. Ustad Arifin mempersilakan kami masuk. Subhanallah.




Rumah besar itu kami masuki dan tak lama Mbak Yuni menyambut kami. Sayangnya Mbak Yuni juga mau pergi, sehingga kami harus juga segera kembali.

Saya ketemu dengan adik Ustadz Arifin, ketika saya sapa " adik ustadz Arifin?

"Inggih..." jar dengan sedikit menyembunyikan logat Banjar-nya. Seorang pemuda kira-kira berumur 25 tahun, berjenggot tipis memakai baju kasual dengan memainkan BB.

Mbak Yuni juga mengantar kami ditemani muslimat cantik (mirip muslimat timur tengah) kukira itu adiknya.

Akhirnya, kami kembali ke jalan tol, mengantar umi nyari taksi ke Cibubur dan kami meneruskan perjalanan kondangan ke Pakuan Hill Bogor.

Wahai Yang Maha Baik, Terima kasih Engkau himpun kami ke dalam lingkar kecil orang-orang saleh. Kebahagiaan terbesar saya sedikit demi sedikit Allah telah berikan dengan "bersalaman langsung" dengan idola saya seperti Ustadz Arifin ini. Sebelumnya saya sudah ketemu muka dengan KH. Abdurassyid Abdullah Syafii.

Perlahan-lahan hati saya mengkilat, mata menetes haru. Pertemuan demi pertemuan yang saya anggap ajaib, telah Allah atur untuk saya. Semoga saya bertambah "senang" dan "nikmat" untuk beribadah, menghadiri majelis ilmu, berzikir pagi-sore dan tilawah berdialog dengan pemilik alam.

Terima kasih Wahai Yang Maha Baik.

22 Desember 2010

DHANI



NAMA DHANI banyak; Dani temen saya waktu di MDS. Jatinegara Plaza 2, dia seorang sekurity. Dani, masih temen saya, dia seorang pedagang baju dipasar Pal Cimanggis, sebelumnya dia satu kantor dengan saya di Gudang Matahari Cimanggis. Dani lagi, adalah seorang HRD Manager di penerbitan Al-Kautsar yang kini mencoba membuat penerbitan sendiri di Bogor (Abu Hanivah Publishing).

Mana Dhani yang saya maksud?

Tak lain dan tak bukan Dhani adalah nama keponakan saya, anak kakak kandung saya satu-satunya : Anis Ismulyaningsih. Saya biasa panggil kakak saya dengan sebutan Mbak Ning. Dia tinggal di Kabat, sebuah dusun kecil di kecamatan yang nggak top di Banyuwangi. Tapi dari Kabat pulalah Bapak, Ibuk, Mbak Ning dan saya lahir.

Mbak Ning menikah dengan Mas Mamiek, seorang drummer asal Waru-Sidoarjo, tahun....lupa saya, mungkin 1996, dua tahun menikah lahirlah Dhani. Yang memberi nama Dhani adalah ibu saya, lengkapnya Mardhani Muhammad Zikri Hidayatullah. Byuh-byuh abot tenan jenenge iki!!!

Dhani lahir 6 Maret 1998, satu bintang dengan saya, 17 Maret 1968. Hehehe....bintang Pisces kata zodiak. wallahu alam. Waktu kecil Dhani agak lama bisa berjalan, kakinya lemah untuk anak seusianya. Gendong.....ae, kerjaannya. Tahun 2001 akhir ampek Mei 2002 Dhani, Ibuk saya dan Mbak Ning, mengunjungi rumah kontrakan saya. Saya ngontrak di Perum Bukit Cengkeh 2, Blok E2 , Cimanggis Depok waktu itu. Namanya juga anak kecil, dikit-dikit nangis kerjaanya.

Pernah saya bawa pergi Solat Idul Adha di mesjid Al-Hikmah deket gerbang Bukit Cengkeh 2, eh belum juga kelar kutbah kedua, Dhani nangis mingsek-mingsek.

Kenapa? Kata saya. "Pulang, Om...."
Ssst.....ntar dikit lagi ya, biar gondok saya mencoba membujuk. Sebagai Om-nya, saya memang agak keras mendidik dia, termasuk membawa dia ke Mesjid.

Pernah waktu datang ke TMII, Dhani saya gemblok baik datang maupun pulang. Cos nggak punya truk waktu itu. Hehehe....Dhaninya malah ketiduran.

Nggak jelas tahunnya Mbak Ning pisahan dengan Mas Mamiek, mungkin 3-4 tahun yang lalu, sehingga saya punya kewajiban untuk lebih membimbing Dhani sebagai seorang anak kecil. Awal tahun 2010 saya punya inisiatip mau masukin Dhani ke Podok Pesantren Gontor. Kebetulan Dhani udah kelas 6 SD dan mau kelulusan. Mbak Ning setuju, akhirnya setelah EBTANAS, Dhani masuk Gontor di Ponorogo.

Setelah melewati masa pendahuluan (tinggal di Gontor 2 bulan) Dhani mengikuti seleksi penerimaan santri baru, dan Alhamdulillah dia lulus dan ditempatkan di Ponpes Gontor 5 Desa Kaligung Rogojampi, Banyuwangi, sekitar 30 menit perjalanan dari Kabat. sebelumnya Mbak Ning ngeluh mulu berpisah dengan anaknya. Mbak Ning di Banyuwangi, Dhani di Ponorogo.

Pilihan Gontor banyak yang nentang, terutama para tetangga Mbak Ning di Kabat. Ate dadi opo? Begitu kira-kira. Tentangan datang dari Mbak Sri (anak Bu Dhe) yang mencoba memberi tahu Mbak Ning: sekolah kok pesantren???

Tapi saya meneguhkan Mbak Ning tentang keinginan Ibu, juga keinginan saya agar anak kecil-kecil sejak dini belajar agomo. Saya nggak punya anak, sodara, jadi bisanya memprovokasi anak saudara. hehehe.... Untung Mbak Ning nurut aja keinginan adiknya yang mau nyekolahin Dhani ke Gontor.

Dhani sendiri, menurut Mbak Ning, rodok abot berpisah dengan ibunya, tapi kata saya, mondok ya harus ngikutin peraturan pondok, nginep siang-malam bareng temen2 pondok, berpisah dengan ibu. Kabarnya Dhani sempat nangis awal-awalnya. Bagus Le.....bagus nangis sekarang daripada engko kowe nangis ning alam kubur. Coba....

Minggu malam, 20 Desember 2010 Mbak Ning nelpon saya sambil nangis: Dhani jatuh di kamar mandi.

"Dimana?" tanya saya.

"Di Pondok."

"Ya udah. Nggak usah nangis. Datangi aja. Dan jangan lupa banyak baca zikir di bis...", saran saya berusaha menenangkan hati Mbak Ning. Saya tahu semua wanita merespon musibah kecil begini dengan tangisan. Sedang sebagian besar laki2 menganggap beginian sebagai hal kecil.

Senin paginya saya telpon Mbak Ning. "Gimana"

"Alhamdulillah agak baikan, setelah diurut ke dukun pijet", kata Mbak Ning.

Ya Rabb.....ikhlaskan hati Mbak Ning, menemani hari-hari sulit Dhani dalam berjihad di jalan-Mu dengan belajar mencari ilmu untuk bekal dia dunia-akherat. Teguhkanlah hati Dhani untuk ikhlas dengan jalan takdir-Mu sehingga kelak dia iklhas pula mendoakan saya, Om-nya, tantenya, Ibunya ketika kami semua sudah ada dialam kubur.

Ya Rabb.....Dhani adalah generasi terakhir dan satu-satunya yang mengalir darah trah Samiari dan Sayu Sumaiyah. Jadikan kesulitan dirinya menjadi rambu di kehidupannya mendatang, Jadikan Gontor lautan ilmu baginya, yang bersama santri-santri lain berlatih, membiasakan diri beribadah dengan tuntunan kasih-sayang pengasuhnya, dan jadikan semua usaha kami berujung kebaikan pada akhirnya. Amin.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More